HEADLINE

Korwil Pemenangan Perindo NTT Kritisi Pemilu 2024, “Pemilu Terburuk Sepanjang Era Reformasi

 

KUPANG;Jejakhukumindonesia.com,Koodinator Wilayah (Korwil) pemenangan pemilu Partai Perindo NTT, Alexander Ena mengkritisi sistem pemilu 2024 dan kinerja Komisi Pemilihan Umum yang dianggap menciderai pesta demokrasi. 


Pasalnya, pemilu ke-6, 14 Februari 2024 sejak bergulirnya reformasi merupakan pemilu terburuk jika dibandingkan dengan 5 kali pemilu sebelumnya. 

Hal ini disampaikan Korwil Pemenangan Pemilu Partai Perindo NTT, Alexander Ena kepada media ini, Jumat (23/2/2024) melalui pesan whatsapp. 


Dikatakan bahwa masuk dalam pemilu terburuk sebab Partai Perindo kehilangan puluhan ribu suara dalam hitungan real count melalui website resmi KPU.

“ Dapil NTT 2 Partai Perindo kehilangan puluhan ribu suara melalui hitungan real count website resmi KPU,” tegas Dia. 


Kondisi ini sangat merugikan partai perindo melalui real count website KPU. 


Alexander Ena juga menggambar kerugian bagi Partai Perindo dalam perhitungan suara melalui real count KPU, sebagai berikut.  


Contoh di Daerah Pemilihan NTT 2 hasil perhitungan suara yang dipublikasikan KPU di website resmimya sebagai berikut :

1. Tanggal 16/02/24 Pukul 13.03 Partai Perindo sudah memperoleh Total Suara 42.234 dengan rincian 

Suara Partai : 3.077

1.  Jesicca Tanoesoedibdjo 4.369

2.  Jonathan Nubatonis 4.508

3.  Alexander Ena 6.103

4.  Yafet Rissi 4.548

5.  Naomi Kenda 5.821

6.  Aleta Baun 5.593

7.  Firda Riwu Kore 8.215

Dengan Progress 647 dari 8.911 TPS (7,26%)

2. Tanggal 17/02/24 Pukul 14.00 Partai Perindo sudah memperoleh Total Suara 70.229  dengan rincian 


Suara Partai : 6.380

1.  Jesicca Tanoesoedibdjo 7.943

2.  Jonathan Nubatonis 8.641

3.  Alexander Ena 9.298

4.  Yafet Rissi 8.492

5.  Naomi Kenda 8.628

6.  Aleta Baun 9.009

7.  Firda Riwu Kore 11.838


Dengan Progress 3.529  dari 8.911 TPS (39,60%) 


3. Tanggal 17/02/24 Pukul 22.33 Suara Mulai menurun secara drastis dari 70.229 menjadi 55.838 dengan rincian sebagai berikut


Suara Partai : 

1.  Jesicca Tanoesoedibdjo 6.686

2.  Jonathan Nubatonis 7.841

3.  Alexander Ena 7.952

4.  Yafet Rissi 7.234

5.  Naomi Kenda 7.302

6.  Aleta Baun 7.816

7.  Firda Riwu Kore 11.007

Dengan Progress 3.529 dari 8.911 TPS (39,60%)


4. Tanggal 19/02/24 Pukul 10.38 Suara berkurang lagi dari 55.838 menjadi 46.059 dengan rincian sebagai berikut 

Suara Partai : 4.642

1.  Jesicca Tanoesoedibdjo 5.013

2.  Jonathan Nubatonis 6.950

3.  Alexander Ena 5.341

4.  Yafet Rissi 6.200

5.  Naomi Kenda 4.691

6.  Aleta Baun 5.296

7.  Firda Riwu Kore 7.926


Dengan Progress 3.679  dari 8.911 TPS (41,29%)


5. Tanggal 20/02/24 Pukul 03.48 Suara berkurang secara drastis dari 46.059 sampai hanya tersisa 13.060 dengan rincian sebagai berikut 


Suara Partai : 1.050

1.  Jesicca Tanoesoedibdjo 1.532

2.  Jonathan Nubatonis 2.548

3.  Alexander Ena 937

4.  Yafet Rissi 1.918

5.  Naomi Kenda 269

6.  Aleta Baun 1.480

7.  Firda Riwu Kore 3.326


Dengan Progress 3.760 dari 8.911 TPS (42,20%) 


“ Dengan demikian suara saya per tanggal 17/02/2024 Pukul 14.00 sudah mencapai angka 9.298 masuk dari 3.529 dari 8.911 TPS atau suara masuk 39,60%, anehnya tanggal 20/02/2024 suara masuk sudah mencapai 42,20% atau 3.760 dari 8.911 TPS, bukannya bertambah melainkan berkurang hingga tersisa 937 suara,” beber Mantan Ketua Bapillu Golkar NTT ini. 


Dia juga mengatakan lebih lanjut, dalam perhitungan melalui website KPU, anehnya secara Nasional Partai Perindo mengalami penurunan suara yg drastis diseluruh Provinsi di Indonesia.


Ketika ditanya kira-kira penyebab berkurangnya suara, Alex Ena menyatakan ada indikasi kuat menghabisi partai Perindo, Hanura dan PPP sebagai partai pengusung paslon No urut 3.


Hal ini dibuktikan ketika lembaga survey mengumumkan perolehan suara melalui Quick count bahwa partai Perindo tidak mencapai Parlement Threshold (PT) atau ambang batas 4%, saat itulah suara partai Perindo mulai mengalami penurunan secara drastis. 


Pada kesempatan itu, Ena menyatakan langkah-langkah yang diambil oleh Partai Perindo NTT melaporkan kondisi ini kepada DPP Partai Perindo untuk mengambil langkah selanjutnya.


Selain berkurangnya suara melalui real count website KPU, Alexander Ena juga menyatakan bahwa politik uang yang marak dilakukan secara massif dan terang benderang dilakukan oleh oknum Caleg yang berduit. 


Namun Bawaslu sebagai lembaga pengawasan tidak mampu berkotek, diam seribu bahasa. Selain itu, intimidasi yang dilakukan oleh oknum pejabat terjadi dimana-mana. (Opos)

Baca juga