Frans Seda Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Gubernur Melki: Menjadi Inspirasi bagi Generasi Penerus NTT



Kupang;Jejakhukumindonesia.com, Tokoh asal Nusa Tenggara Timur, Drs. Franciscus Xaverius Seda atau yang lebih dikenal dengan nama Frans Seda, akan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2026 mendatang.


Kabar tersebut diterima Pemerintah Provinsi NTT melalui surat Kementerian Sosial Republik Indonesia Nomor 1932/5.5/PB.06.00/11/2026 tentang Pemberitahuan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Dalam surat tersebut, Kementerian Sosial menyampaikan bahwa berdasarkan surat Sekretaris Militer Presiden, Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Nomor 17/KSN/SM/GT.03.00/11/2026 tanggal 5 November 2026, Presiden Republik Indonesia akan menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Drs. Franciscus Xaverius Seda.


Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas keputusan pemerintah pusat tersebut. Menurutnya, penganugerahan ini merupakan bentuk penghormatan negara atas pengabdian, perjuangan, dan karya besar Frans Seda bagi bangsa dan negara.


“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT dan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat yang telah menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada putra terbaik NTT, almarhum Frans Seda,” ujar Gubernur Melki.


Gubernur Melki menegaskan, Frans Seda merupakan tokoh bangsa yang memiliki rekam jejak pengabdian panjang. Ia berkarya dan mengambil peran penting dalam perjalanan Indonesia sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto, serta tetap memberikan kontribusi dan pemikiran bagi bangsa pada masa-masa pemerintahan berikutnya.


Menurut Gubernur, penganugerahan ini juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat NTT karena semakin menambah daftar putra-putri terbaik daerah yang diakui negara atas jasa dan pengabdiannya. Sebelumnya, NTT telah memiliki sejumlah tokoh yang dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, yakni I.H. Doko, W.Z. Johannes, dan Herman Johannes.


“Dengan penganugerahan ini, masyarakat NTT memiliki tambahan seorang Pahlawan Nasional. Frans Seda akan menjadi inspirasi dan teladan bagi seluruh pemimpin di Indonesia, khususnya kami di NTT, serta bagi generasi muda dan masyarakat luas,” ungkapnya.


Gubernur Melki juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Frans Seda, masyarakat Kabupaten Sikka, masyarakat NTT, Pemerintah Kabupaten Sikka, seluruh jajaran Pemerintah Provinsi NTT, serta berbagai pihak di tingkat nasional, termasuk Kementerian Sosial, yang telah berkontribusi dalam proses pengusulan hingga penganugerahan gelar tersebut.


Ia berharap penghargaan negara ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi dorongan bagi masyarakat NTT untuk terus melahirkan generasi yang memiliki semangat pengabdian, integritas, dan kontribusi nyata bagi bangsa.


“Semoga Gelar Pahlawan Nasional bagi Frans Seda menjadi inspirasi bagi bangsa dan bagi NTT. Kita berharap dari bumi NTT akan lahir Frans Seda-Frans Seda baru, generasi yang memiliki semangat juang, integritas, dan pengabdian untuk kemajuan daerah serta Indonesia,” tutup Gubernur Melki.


*Jejak Pengabdian Frans Seda bagi Bangsa dan Negara*


Frans Seda lahir di Maumere, Flores, pada 4 Oktober 1926. Ia menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Katholieke Universiteit Tilburg, Belanda, dan menyelesaikan pendidikannya pada 1956. Dalam kehidupan keluarga, Frans Seda menikah dengan Yohanna Pattinya Seda dan dikaruniai dua orang anak, Ery Seda dan Nessa Seda.


Perjalanan pengabdiannya di bidang pemerintahan dimulai dengan menjabat sebagai Menteri Perkebunan pada 1964–1966. Pada 1966, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Menteri Pertanian dan Tenaga Kerja, sebelum kemudian menjabat Menteri Keuangan pada 1966–1968. Selanjutnya, pada 1968–1973, Frans Seda menjabat Menteri Transportasi, Komunikasi, dan Pariwisata.


Pengabdiannya berlanjut di tingkat internasional ketika ia dipercaya menjadi Duta Besar untuk Masyarakat Ekonomi Eropa, Kerajaan Belgia, dan Luksemburg pada 1973–1976. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1976–1978, anggota Penasihat Presiden untuk Pembangunan Indonesia Bagian Timur pada masa Presiden Soeharto, serta penasihat Presiden B.J. Habibie. Pada 1999–2004, ia juga diangkat menjadi penasihat Megawati Soekarnoputri, baik ketika menjabat Wakil Presiden maupun Presiden Republik Indonesia.


Di bidang politik, Frans Seda aktif dalam Partai Katolik Indonesia sejak 1956 dan kemudian dipercaya menjadi ketua partai tersebut. Ia juga pernah menjadi anggota DPR pada 1960–1964, anggota Dewan Pimpinan Partai Demokrasi Indonesia pada 1971, serta terlibat dalam kepengurusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada 1997.


Selain pemerintahan dan politik, Frans Seda memberikan kontribusi besar dalam dunia usaha dan pembangunan ekonomi. Ia pernah memimpin sejumlah perusahaan dan lembaga bisnis, antara lain sebagai Presiden Direktur PT Karwel Group, Presiden Dewan Komisaris Kompas Group of Business and Industries, serta anggota Dewan Komisaris PT Gramedia. Ia juga pernah memimpin Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan terlibat dalam berbagai organisasi yang mendorong pengembangan hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia dengan negara lain, termasuk Belanda dan Australia.


Dalam bidang pendidikan dan sosial, Frans Seda dikenal sebagai pendiri sekaligus Ketua Umum Yayasan Atma Jaya Jakarta selama 36 tahun. Sejak 1996, ia menjabat sebagai Ketua Kehormatan Yayasan Atma Jaya dan kemudian dipercaya sebagai Ketua Dewan Pembina pada 2007. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi pendidikan, sosial, dan pembangunan, termasuk APTIK serta sejumlah lembaga kerja sama Indonesia dengan negara sahabat.


Atas pengabdian dan kontribusinya, Frans Seda menerima berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya Bintang Mahaputera Republik Indonesia pada 10 Maret 1973, Grand Cross of St. Sylvester dari Paus Yohanes Paulus II pada 1984, Grand Cross de L'Ordre de Leopold II dari Belgia pada 4 Juni 1970, serta Honorary Member of the Order of Australia dari Pemerintah Australia pada Agustus 1999 atas jasanya dalam mengembangkan hubungan perdagangan antara Australia dan Indonesia. Ia juga menerima sejumlah penghargaan kehormatan dari Belanda, Kamboja, Filipina, dan Amerika Serikat.


Jejak panjang pengabdian Frans Seda di bidang pemerintahan, politik, ekonomi, pendidikan, dan hubungan internasional menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepadanya menjadi pengakuan negara atas jasa dan dedikasi seorang putra NTT yang telah memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.(*/ BS)



Baca juga